MAKNA WARNA DALAM KARYA SENI RUPA

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halo! Perkenalkan nama saya Rizki Ramadhan, biasa dipanggil Rama. Saya adalah mahasiswa semester 4 di Universitas Indraprasta PGRI dengan prodi Desain Komunikasi Visual. Sebelumnya saya sudah membuat artikel tentang "Menemukan Diri dalam Kajian Seni Rupa dan Desain". Dan pada kesempatan kali ini saya ingin meriview dan memberikan kesimpulan 3 jurnal yang membahas mengenai warna.

Warna adalah elemen yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari, perkembangan dan kemajuan teknologi, serta unsur aditif (additive) sebagai warna cahaya yang disebut spektrum dan subtraktif (subtractive), sebagai warna bahan yang disebut pigmen atau warna yang terdapat pada material. Warna juga memiliki falsafah, simbol, dan emosi yang berkaitan dengan penafsiran makna dengan warna tertentu sebagai bentuk dari psikologi warna. Perkembangan ini berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu tentang warna dalam bidang filsafat, kesenian, keagamaan, kepribadian, semiotika dan hermeneutika  atau penafsiran. Dalam perkembangan seni visual, warna merupakan unsur dasar dari seni rupa.

SEJARAH AWAL WARNA 

Melihat ke sejarah awal perkembangan warna, maka pandangan atau visi manusia adalah proses yang ikut terlibat secara aktif. Manusia sebagai makhluk yang sempurna akan melihat sesuatu dengan mata, kemudian mulai muncul dalam benaknya pemikiran tentang benda dan warna yang dilihatnya. Berawal sekitar 550 SM, Pythagoras melahirkan gagasan mengenai ‘sinar visual’ atau ‘sinar okuler’, bahwa sesuatu yang muncul dari mata adalah dalam garis lurus atau ekstra misi. Selain itu sekitar 490-435 SM, Empedocles dari Akragas adalah filsuf Yunani pertama yang menulis tentang warna. Bagi Empedocles, segala sesuatu yang permanen terdiri dari empat elemen, yaitu; api, udara, air dan bumi sebagai akar segala sesuatu. Elemen-elemen ini diwakili oleh matahari, langit, laut dan tanah. 

“Gagasan Empedocles adalah bahwa empat elemen tersebut memunculkan bentuk dan warna hitam, putih, merah dan hijau kekuningan pada semua benda fana yang sekarang ada, disatukan oleh dewi cinta atau Aphrodite. Sementara Aristoteles menambahkan kuartet kualitas yang terdiri dari; hangat, kering, lembap, dan dingin. Hipokrates menghasilkan empat cairan tubuh, yakni; empedu hitam, darah, empedu kuning dan dahak/lendir atau sputum. Cairan ini terkorelasi atas empat system of medicine, seperti; melankolis, sanguine, mudah tersinggung dan apatis”. 

Ada keterhubungan yang saling terkait antara psikologi dan fisiognomi manusia dalam menyatukan dengan lingkungan alam raya. Keterkaitan ini kemudian Penulis rangkai dalam bentuk tabel, agar mudah mengklasifikasi sistem yang memiliki hubungan tersebut. Dari perjalanan awal sejarah tentang warna dalam pemikiran Yunani Kuno, kemudian melahirkan banyak penemu dan pengembang pengetahuan tentang warna sampai pada teori warna, skema warna, suhu atau temperatur warna, psikologi dan karakter warna, percampuran warna, kode warna, harmonisasi warna, nama warna, kepekatan warna, ketajaman warna, warna cahaya, warna pigmen, makna warna dan terminologi warna.

Semua ini bertujuan untuk memudahkan manusia dalam berkomunikasi untuk mencapai kesepakatan melalui pembacaan sistem warna. Sehingga keberadaan warna menjadi sesuatu yang sangat spesifik, tapi tidak sedikit manusia yang mengalami buta warna atau hanya mampu melihat satu warna karena memiliki kelemahan sensor pembeda identitas warna.

PSIKOLOGI WARNA

Kita memiliki semacam kesadaran naluriah berkenaan dengan efek emosional yang ditimbulkan oleh warna. Namun kebanyakan orang hanya tidak menyadari betapa mendalam dan bervariasinya efek-efek tersebut, lalu betapa tepatnya jika kemudian warna dapat digunakan sebagai instrumen penyembuhan penyakit yang bersifat emosional. Dmu pengetahuan modem menempuh peIjalanan yang panjang untuk menjelaskan mekanisme yang dipakai agar efek-efek luar biasa tersebut dapat berfungsi. Setiap kali kita melihat cahaya atau wama, terjadi perubahan biokimia dalam sel-sel tubuh kita, dengan perantara sejumlah hormon yang memiliki efek mendalam terhadap mood, suasana hati, emosi kita, kesehatan fisik kita dan tingkah laku kita. Berikut ini adalah ringkasan sejumlah arti dan efek psikologis warna-warna pokok yang telah diakui.

  • Biru: Penuh kedamaian, tulus, penuh cinta, kreatif, penyayang, idealistik, memiliki kemauan keras, komunikatif.
  • Hijau: Penuh kedamaian, stabil, setia, sensitif', seimbang, pengasih, baik hati, ulet.
  • Kuning: Antusias, kompetitif, cerdas, berubah-ubah, kuat, rapi, berhati-hati.
  • Putih: Teratur, termotivasi, kritis, spiritual, mandiri, positif.
  • Abu-abu: Memberi ketenangan, waspada, terasing.
  • Hitam: Pintar, aman, serius, penuh, berkuasa, kematian, dramatis, tak dikenal, berwihawa.
  • Jingga (orange): Hangat, tegas, kreatif, ekspresif, penuh kegembiraan, seksual, tidak bertele-tele.
  • Merah: Penuh semangat, resah, sensual, mementingkan lahiriah, sukses, tidak sabar, menuruti kata hati, hebat. 
  • Merah jambu: Penuh cinta, ramah tamah, rileks, keibuan.
  • Ungu: Spiritual, sensitif, berpandangan terbuka, intuitif, terbuka.
FUNGSI WARNA DALAM KARYA SENI RUPA

Warna merupakan elemen penting dalam semua lingkup disiplin seni rupa, bahkan secara umum warna merupakan bagian penting dari segala aspek kehidupan manusia. Hal tersebut dapat kita lihat dari semua benda yang dipakai oleh manusia, semua peralatan, pakaian, bahkan alam disekeliling kita merupakan benda yang berwarna. Karena begitu penting peranan warna bagi manusia warna sering kali dipakai sebagai elemen estetis, sebagai representasi dari alam, warna sebagai komunikasi, dan warna sebagai ekspresi.

  • Warna sebagai elemen estetika: Warna memerankan dirinya sebagai ”warna”, yang mempunyai fungsi dalam membentuk sebuah keindahan. Namun keindahan disini bukan hanya sebagai ”keindahan” semata. Melainkan sebagai unsus eksistensial bendabenda yang ada disekeliling kita. Karena dengan adanya warna kita dimudahkan dalam melihat dan mengenali suatu benda. Sebagai contoh apabila kita meletakkan sebuah benda di tempat yang sangat gelap, mata kita tidak mampu mendeteksi obyek tersebut dengan jelas. Di sini warna mempunyai fungsi ganda dimana bukan hanya aspek keindahan saja namun sebagai elemen yang membentuk diferensial/perbedaan antara obyek satu dengan obyek lain.
  • Warna sebagai representasi dari alam: Warna merupakan penggambaran sifat obyek secara nyata, atau secara umum warna mampu menggambarkan sifat obyek secara nyata. Contoh warna hijau untuk menggambarkan daun, rumput; dan biru untuk laut, langit dan sebagainya. 
  • Warna sebagai alat/sarana/media komunikasi (fungsi representasi): Warna menempatkan dirinya sebagai bagian dari simbol (symbol). Warna merupakan lambang atau sebagai perlambang sebuah tradisi atau pola tertentu. Warna sebagi komunikasi seringkali dapat kita lihat dari obyekobyek seperti bendera, logo perusahaan, fashion, dll. Warna juga merupakan sebuah perwakilan atau bahkan sebuah obyek pengganti bahasa formal dalam mengkomunikasikan sesuatu misalnya: merah perlambang kemarahan, patriotisme, seksualitas; kemudian putih sebagai perlambang kesucian, kebersihan, kebaikan.
KESIMPULAN

Warna-warna yang kita lihat banyak mendapat pengaruh dari apa yang kita rasa. Di mulai pada saat kita masih bayi, di mana mata kita pertama kali melihat warna, kita mulai mempunyai formula perasaan tentang warna-warna yang bervariasi, dan dibawa terus sampai kita dewasa. Warna bukan hanya untuk estetika atau menunjukkan kepribadian kita di mata orang dalam melihat sebuah karya seni rupa, warna identik dengan keseharian dan kebiasaan maupun jati diri seseorang. 

"Teori warna" adalah aspek mendasar bagi penggiat seni, yang memengaruhi bagaimana warna dipilih dan digabungkan untuk menyampaikan emosi, pesan. Warna yang berbeda membangkitkan respons psikologis dan emosional yang berbeda. Misalnya, warna-warna hangat seperti merah dan oranye dapat menyampaikan energi dan gairah, sedangkan warna-warna sejuk seperti biru dan hijau dapat membangkitkan ketenangan dan kepercayaan. Dengan memahami teori warna, para seniman dapat membuat pilihan yang tepat untuk menciptakan karya seni yang diinginkan dan mencapai tujuan tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Dedih Nur Fajar Paksi (2021). Warna dalam Dunia Visual. Institut Kesenian Jakarta

P Widiyanti (2002). BAB 3 Tinjauan tentang Warna dan Karakter Psikologis Pasien. Universitas Islam Indonesia

Materi Desain Grafis (2016). Fungsi Warna dalam Karya Seni Rupa. Portal Materi Pelajaran Terbaru

Sekian dan terima kasih telah membaca artikel saya, maaf bila ada salah kata. dan sampai jumpa dipertemuan berikutnya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERKEMBANGAN ALIRAN SUREALISME DI INDONESIA

PENELITIAN TERKAIT ALIRAN SUREALISME DI INDONESIA